Siapa yang tidak mengenal Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah? Salah satu pesantren terbaik di Pulau Sumatera Utara ini menjadi tempat pendidikan impian dan terfavorit bagi kalangan pelajar muslim di pulau tersebut bahkan di Negara Indonesia. Pesantren yang terletak di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia ini berdiri sejak tahun 1982.
Sebuah pesantren yang berbasis modern serta memiliki sistem pendidikan yang baik, terkenal dengan sebutan KMI (Kulliyatul Mua’llimin Al-Islamiyah), dan juga dikenal memiliki pengajaran bahasa yang baik diantaranya bahasa arab dan inggris, serta berdisplin dalam setiap kegiatan pendidikan. Tak heran bila proses untuk menjadi santri dan santriwati di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah ketat sekali.
Beberapa santri dan santriwati di Pesantren tersebut ada yang datang dari kalangan keluarga berada, akan tetapi tidak sedikit juga yang datang dari latar belakang sederhana. Seperti seorang remaja bernama Fahri Abdullah.
Seorang santri berasal dari Kota Medan yang bisa masuk dan belajar di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah walaupun dari keluarga yang tidak berada. Meski hanya tinggal di rumah sewa atau kontrakan bersama keluarga, Fahri tetap bisa belajar dengan baik hingga diterima dan dapat menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Ar-Raudltul Hasanah.
Fahri memang berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah hanyalah seorang supir angkutan umum dengan penghasilan tak tentu. Sebagai tambahan untuk mencukupi biaya hidup, sang ibu juga bekerja sebagai penjual bakso dengan dengan penghasilan tak tentu juga. Kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan tak lantas membuat Fahri berkecil hati, ia tetap pantang menyerah untuk mengejar cita-citanya.
Santri yang terkenal cerdas ini ingin sekali mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik, dengan berhasilnya menjadi santri di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Allah Swt. kepadanya, Fahri pun giat belajar dan tetap berprestasi, bahkan dia selalu mendapatkan nilai sempurna atau dikenal dengan sebutan Mumtaz.
Rasa sedih, haru melihat kondisi tersebut membuat Fahri merasa lebih giat dalam belajar, tak gentar untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Tak sedikit pun Fahri meminta sesuatu, karena tak ingin membebani orang tuanya.
Kisah haru yang dirasakan seoarang santri tersebut terjadi tatkala Ia menduduki dikelas 6 KMI. Kala itu terjadi krisis ekonomi di kehidupan keluarganya, pekerjaan sang ayah yang mulai merasakan menurunnya pendapatan dari penghasilan kerjanya sebagai supir angkutan umum karena pemerintah menaikkan harga minyak BBM (Bahan Bakar Minyak) ditambah lagi dengan kehadiran aplikasi Grab yang membuat penumpang lebih memilih menggunakan jasa aplikasi tersebut. Dagangan sang ibu yang tidak begitu banyak pembelinya, membuat keluarga kecil tersebut harus lebih menghemat agar bisa tetap stabil.
Uang kontrakan atau sewa rumah yang belum terbayar pada saat itu, uang sekolah Fahri yang sudah menunggak 3 bulan dan adik perempuannya yang belum terbayar juga, dan uang jajan Fahri yang biasa dikirim tiap minggu kini belum terkirim sudah satu setengah bulan.
Fahri merasa bingung dan memilih untuk menghubungi sang ibu karena membutuhkan uang untuk membayar jas almamater dan administrasi kebutuhan lainnya yang menjadi syarat untuk acara wisudanya.
“Assalamualaikum, Ma,” Seru Fahri.
“Wa’alaikumussalam nak, iya nak, ada apa nak? Oh iya, kemarin Mama udah ngirim uang, udah masuk, kan? Hmmm, di sini keadaaan kita tiba-tiba jadi rumit toh nak lanangku, lagi krisis nak, cukup-cukupan, menghemat toh, uang sewa kita juga belum terbayar, kalo belum terbayar di akhir tahun ini, kita bisa diusir toh, uang sekolah adikmu juga belum terbayar, SPP abang juga belum bahkan nunggak 3 bulan pun, tapi Abang jangan khawatir, fokus aja sama belajarnya, ya.” Jawab sang ibu dengan penuh kasih sayang.
“Hmmm, iya Ma, Mama dan Papa sehat selalu ya, Abang janji akan memberikan yang terbaik buat Mama dan Papa. Sampaikan salam abang ke adik juga ya, Ma. Abang sayang sama Mama, Papa dan Adik juga.” Seruan Fahri yang merasa sedih, tangis yang tertahan, dan tangan yang memegang perut karena kambuhnya sakit lambung yang pernah ia alami sewaktu ia duduk dikelas 1 Intensif.
“Abang nangis?” Tanya sang Ibu
“Tidak kok, Ma, hmmm Abang tutup dulu ya, Ma. Mama jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah ya Ma, Assalamu’alaikum,” Tutup Fahri.
“Iya, mama selalu doakan Abang kok, semangat belajarnya ya nak, Waa’alaikumussalam.” Jawab sang Ibu.
Setelah mendengar kabar tersebut dari sang ibu, rasa sedih diselimuti tangisan pun mulai dirasakan oleh Fahri. Tidak dapat berkata, pikiran tidak terarah, namun semua itu bukan akhir bagi dirinya, hidup akan terus tetap berjalan, situasi akan segera berubah dengan sendirinya. Kondisi yang dialami sang santri tersebut membuatnya memiliki inisiatif untuk mengambil tabungan yang ia kumpulkan dari kelas 1 Intensif KMI, tidak banyak akan tetapi cukup untuk membayar uang SPP nya selama 3 bulan dan membayar kebutuhannya di kelas KMI.
Pembayaran SPP dan administrasi pun telah diselesaikan, Fahri memiliki beberapa uang dari sisa pembayaran tersebut yang akan diberikan kepada kedua orang tuanya, tatkala sang ibu datang ke pesantren, Fahri langsung memeluk sang ibu, dan mencium tangannya.
"Ma, ini ada sedikit uang dari tabungan Abang,” Ucap Fahri dengan suarau pelan.
“Apa ini bang? Udah, Mama ndak mau toh, ini simpan aja buat jajan Abang. Oh iya, Mama mau bertanya, abang yang bayar uang sekolah sendiri ya?” Tanya Sang Ibu.
“Iya, Ma,” Jawab Fahri sambil menunduk.
“Abang, ini Mama ganti uangnya, ya. Abang jangan mikirin tentang bayar itu, bayar ini ya, Abang fokus aja belajar. Doakan aja Mama dan Papa sehat selalu dan bisa menyekolahkan Abang sama adik. Hmmm, Mama dan Papa memang ndak bisa mewarisi harta, tapi Mama dan Papa In sya Allah akan memberikan yang terbaik untuk pendidikan kalian. Tak apa Mama dan Papa biasa saja, yang penting Abang dan adik bisa sekolah dengan baik dan menjadi orang sukses,” Bujukan Sang Ibu dengan haru dan senyum.
Air mata seketika terlintas dikedua pipi Fahri, isak tangis yang sangat mendalam melihat sosok sang Ibu dan senyuman yang diberikan kepadanya, sebuah senyuman ikhlas dengan kecupan kening di kepala sambil memberikan nasehat:
“Jadilah orang yang bermanfaat, dan jagalah nama baik Abang serta keluarga, dan juga tetap dijaga ibadahnya, serta tetap jadi orang yang baik walaupun seberapa banyak orang menyakiti abang balaslah dengan senyuman, karena hanya abang yang Mama harapkan dan juga untuk menjaga saudari kandung Abang.”
Semangat yang membara dilapisi dengan tekad yang kuat menjadikan Fahri lebih siap untuk menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Membaca, memahami dan menghafal pelajaran itulah yang menjadi fokus Fahri dalam kesehariannya untuk mendapatkan nilai yang terbaik sebagai hadiah bagi kedua orang tuanya.
Pada akhrinya Fahri menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dengan predikat memuaskan atau mumtaz. Bukan hanya sampai disitu, kini Si Anak Penjual Bakso tersebut telah menjadi guru di Pesantren terbaik tersebut dan sedang melanjutkan pendidikannya untuk tingkatan sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah.
Si Anak Penjual Bakso tersebut pun bertekad untuk mencukupi kebutuhan adiknya baik dalam SPP maupun yang lainnya, karena dia hanya memiliki cita-cita untuk membahagiakan orang-orang yang dia sayangi dan tidak ingin membuat orang yang dia sayangi merasakan kesusahan dan kepahitan seperti yang dialaminya di masa lalu.
Masa lalu bairlah berlalu, kini si Anak Penjual Bakso tersebut sadar bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar, baik rezeki apapun itu, tinggal kita sebagai manusia untuk selalu berusaha, berdo’a, dan tawakkal serta yakin kepada Allah SWT, pada akhirnya semua akan indah jika telah waktunya tiba. Bersabarlah akan menunggu waktu tersebut karena semua yang ada didunia ini sudah ada yang mengaturnya. Siapa Dia? Dia-lah Allah SWT.
Masyaallah... Semangat Fachri
BalasHapusSemoga Fachri segera menemukan Aisyahnya.... π
Aamiin ustπ
Hapus