Tersadar bahwa hidup bukan menjelaskan tentang apa melainkan tentang mengapa, baik itu dalam keseharian, karir, keluarga, bahkan cinta, atau seseorang yang engkau sangat cintai...
Mengapa kok hari ini saya bahagia ya?, atau tidak lama kemudian hati kamu bertanya mengapa tiba-tiba terasa sedih ya? Mengapa kok saya bisa jadi seperti ini? Mengapa semuanya kok bisa begini? Dan mengapa harus begini? Mengapa harus berbeda?
Pertanyaan itu selalu muncul karena hidup bukan mempenyatakan apa melainkan mengapa. Kamu memilih cita-cita itu, pertanyaan nya mengapa?
Kamu memilih untuk melakukan ini? Pertanyaan nya mengapa?
Kamu merencanakan ini? pertanyaan nya mengapa?
Kamu mencintai seseorang? Pertanyaan nya mengapa?
Kita telah menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang diawali dengan kata karena dan untuk atau bahkan supaya....
Kadang apa yang engkau rencanakan dan yang engkau harapkan bisa berubah dan tidak sesuai dengan kenyataan. Selalu terdengar, jarang banyak berharap, takutnya kamu akan kecewa, awalnya tidak percaya tapi sekarang baru paham dan mengerti karena telah merasakan nya. Rasanya yaitu sedih dalam senyuman atau senyuman dalam kesedihan....
Pasrah? Itu jalan satu-satunya, tidak terlalu berharap itu meringankan rasa kekhawatiran, bukan karena tidak percaya akan tetapi hanya takut dalam kekecewaan, dan dari kecewa akan timbul trauma yang mendalam...
Memahami yang ada? Mungkin ini juga bisa jadi solusi untuk kita yang telah merencanakan semuanya dan berharap itu akan terjadi sesuai rencana, namun tidak. Kenapa menjadi solusi, bukan karena menyerah tapi agar tidak terlalu dalam merasakan kekecewaan.
Ikhlas? Itu mendamaikan hati, karena akal dan hati bisa berdamai jika diberikan keikhlasan didalamnya, walaupun akan terus ada air mata yang jatuh dan berharap kepada Allah SWT agar hasil atau rencana kita tercapai walaupun jalannya yang berbeda...
Tetap tersenyum dan menerima apa yang ada itulah cara bersyukur...


Komentar
Posting Komentar