Indahnya London

 

Indahnya London

Karya : Dayfana Anjasmara Selian

Rintikan benda kecil berwarna putih jatuh di siang hari, menggantikan cahaya mentari yang sedang berlibur dari aktivitasnya, menyelimuti jalan, tempat teduh kecil, pagar hitam membeku dingin, ialah salju yang datang sekali dalam setahun di sebuah negeri yang bernama United Kingdom. Memiliki julukan sebagai negeri matahari yang tak pernah tenggelam. Rumput yang bergoyang telah tertutupi dengan sangat rapi dan indah, sebuah traktor bergerak pelan membersihkan jalan dari salju yang sejuk. Jembatan yang bersalju meninggalkan jejak para pejalan kaki, membuat ukiran yang mempesona, suara saxophone terdengar merdu bergelombang ke setiap rumah dan jalanan, membuat seakan tak berdaya dan menarik perhatian setiap orang yang melintas di negeri tersebut.

Sejuk dan dinginnya kota London tidak menjadi alasan bagi masyarakatnya untuk tidak bekerja. Orang tua, pemuda, para remaja, dan anak-anak terus berjalan dengan bertegur sapa. Para remaja memberikan rasa hormat kepada orang tua dan orang tua memberikan kasih sayang kepada para remaja   melalui senyuman yang khas. Dari kejauhan, terlihat sesosok pemuda yang sedang memegang gitar. Memiliki rambut hitam, senyuman yang manis dan sangat ramah. Menggunakan jaket pea coat, sepatu boots dan celana jeans. Pemuda itu berasal dari negeri seribu pulau yaitu Negara Indonesia. Pemuda tersebut bernama Samar.

Bernyanyi, menari, dan bahagia tatkala sedang menikmati permainan gitarnya, yang membuat suasana kota London kala itu merasakan kebahagiaan bersama dan terpesona dengan penampilan pemuda tersebut. Ia hidup bersama seorang sahabatnya yang bernama Aditya. Hanya menempati sebuah apertemen mini. Samar tidak memiliki pekerjaan tetap, karena di kota tersebut untuk mencari Pound Bratania itu sangat sulit. Akan tetapi ia percaya bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang sukses di negeri matahari yang tak pernah tenggelam tersebut.

“Ayok kita pulang Samar,” Ajak Aditya kepada Samar.

“Hmmmm, baiklah. Kamu pasti lapar, kan? Makan bentar yuk, aku juga lapar nih,” Jawab Samar

“Nah, tau aja kamu ya, hahaha”. Seruan Aditya

“Tunggu, Dit, itu siapa?” Samar berhenti dan melihat seoarang gadis yang berjalan di depannya.

Senyuman manis, ditambah dengan lesung pipi dan wajah yang cerah bagaikan bulan terang di atas lautan yang membiru. Memakai jaket tranch coat berwarna biru, serta hijab putih. Semakin membuat Samar terpesona melihat kecantikan gadis tersebut. Berjalan bersama teman-temannya, tawa lepas terlihat di wajahnya, membuat jalan yang terkenal dengan Westminster tidak hanya indah karena adanya menara Big Ben didekatnya, melainkan juga karena senyum dan tawa dari gadis tersebut.

Gadis itu berrnama Tania, gadis muda yang berumur 23 tahun, berkebangsaan Inggris, akan tetapi memiliki darah keturunan asli dari negeri Transkontinental atau Turki. Sepertinya Samar seakan baru pertama kali melihat seorang gadis yang cantik jelita, tawa kekanakannya, suara lembut yang terdengar darinya, yang berjalan tepat melewati pemuda tersebut. Walaupun hanya sekadar berjalan dan melewatinya, Samar sudah merasakan yang sewajarnya, sebuah  anugerah yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia yaitu cinta.

Hari yang terang berubah gelap menjadi malam, suasana tenang menyelimuti kota London, masih terdengar suara biola yang dimainkan dari salah satu rumah dekat apertemen mini Samar. Alunan lembut bergelombang dari alat musiknya mengelilingi suasana Westminster, London. Samar duduk di depan meja, pikiran yang masih tertuju kepada gadis tersebut. Ia pun mengambil pena, dan menulis sebuah untaian kata diatas selembar putih,

Lirikan matamu yang nakal,

Keriangan terpancar dari matamu,

Hijab panjangmu yang terurai,

Aku tidak akan melupakanmu,

Selama aku masih bernyawa, selama aku masih bernyawa.

Kau menari ditengah derasnya hujan,

Kau menumpahkan semua amarahmu,

Sikapmu yang kekanak-kanakan,

Aku akan mencintaimu,

Selama aku masih bernyawa, selama aku masih bernyawa.

***

Musim salju telah berganti dengan musim semi, taman yang putih telah kembali menjadi hijau kemerahan, rumput segar menyejukkan mata, bunga mawar memanjakan dirinya sehingga membuat terpesona atas kemekarannya, dan pohon berbunyi dengan siulan burung parkit yang bergantungan di atasnya. Indahnya kota London membuat bahagia serta semangat bagi masyarakatnya.

Samar dan Aditya melakukan aktivitasnya bekerja di sebuah restoran terkenal yang bernama Chiltern Firehouse. Lampu cerah berhias menemani para pengunjung di dalamnya, yang akan bersiap untuk melihat acara lamaran megah. Samar berdiri memegang sebuah tray atau talam yang di atasnya berdiri beberapa gelas, berisikan beraneka ragam jus untuk diantarkan kepada para pengunjung yang sedang berbahagia.

“Samar lihat itu siapa?” Tanya Aditya kepada Samar.

“Hmmmm…..” Suara Samar yang berat dan pelan dan terdiam pasrah.

Kesedihan yang mendalam dirasakan pemuda tersebut melihat gadis yang ia sukai, kini telah dilamar seorang pria kaya dan berwibawa, cincin yang terpakai di jari manis, kebahagiaan sang kedua belah pihak keluarga, senyuman yang terpancar dari gadis manis yang bernama Tania, semakin membuat Samar diam dan tidak berdaya.

Gadis yang ia lihat dua bulan lalu, gadis yang ia cintai, gadis yang membuat hidupnya lebih bewarna dan punya harapan lebih, kini harus ia relakan, baginya hidup akan terus berjalan, walaupun terbesit di dalam hatinya, “Ya Allah, apakah aku bisa  melupakannya dalam ingatanku, berikanlah hamba-Mu ini yang terbaik.” Dengan tersenyum Samar berjalan maju membagikan hidangan kepada para pengunjung dan terakhir ia berhadapan dengan gadis tersebut.

“Silakan Nyonya, dan selamat atas lamarannya,” Kata Samar dengan tersenyum.

“Makasih ya, kamu ramah sekali. Nama kamu siapa?” Tanya Gadis tersebut.

“Hmmm, namaku Samar,” Jawaban Samar dengan senyum bahagia.

“Oh, kamu Samar, perkenalkan namaku Tania, senang berjumpa denganmu dan aku berharap bisa berjumpa denganmu lagi, bye.” Seru Tania dengan senyumnya yang indah.

Kesedihan yang dirasakan Samar pun telah terobati, walaupun hanya dengan pembicaraan beberapa menit, tapi itu telah membuat senang dan bahagia baginya. Keikhlasan hati pun mulai lebih bisa diterima Samar. Acara selesai, ia  dan Aditya pulang ke apartemen mini mereka.

“Kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Aditya

“Emangnya aku kenapa?” Jawab Samar

“Gadis pujaanmu sudah dilamar pemuda lain, tuh,”

“Hahaha, ya sudahlah mau bagaimana lagi, tapi kalau jodoh gak kemana kok. Kalau jodoh pasti kami bersatu, kalo tidak berarti tidak jodoh toh,”

“Hmmm, baik deh,” Seruan Aditya.

***

            Mentari terbit di sebelah timur mengeluarkan warna cerah megah untuk menghidupkan kota London, bus yang berjalan seperti biasanya membawa banyak orang ke tujuan masing-masing, mobil yang berjalan saling berlawan arah, lampu lintas yang berganti dari merah sampai hijau, beberapa orang yang berjalan melintas di pinggiran jalan, ada yang memakai jaket pea coat, kemeja dan lainnya, suara saxophone terdengar indah bergelombang yang menjadi ciri khas  kota tersebut. Samar dengan ciri khasnya, memakai jaket pea coat serta membawa gitar di belakangnya, Ia mengelilingi kota London. Bernyanyi dan menari seperti biasanya menarik perhatian banyak orang yang terpesona melihatnya.

            Kerumunan terjadi tepat di depan Big Ben, bukan karena melihat Samar dan temannya bernyanyi melainkan adanya kecelakaan yang terjadi. Seorang pak tua dan pemuda terluka parah, Samar dan temannya langsung mendatangi lokasi kejadian dan membawa mereka dibawa ke rumah sakit St. Thomas yang berada di kota tersebut. Namun, sang pemuda yang bersama pak tua tersebut tak terselamatkan, tinggallah sang Pak Tua  yang harus berjuang untuk bisa tetap hidup. Samar yang membawanya berdialog dengan seorang dokter.

            “Tuan, apakah anda keluarganya?” Tanya Dokter.

            “Tidak Dok,” Jawaban Samar.

            “Begini Tuan, Pak Tua ini harus segera dioperasi dan untuk itu, harus ada persetujuan dari pihak keluarga atau siapa pun yang siap bertanggungjawab serta menyelesaikan segala administrasinya.”

            “Hmmmm begitu ya, Dokter. Baik, Dok. Segera lakukan operasi biar saya saja yang akan menandatanganinya.”

            Samar pun menandatangani surat pernyataan, dan ia mengambil semua tabungan yang ia miliki, menyelesaikan administrasi biaya untuk melakukan operasi terhadap pak tua tersebut, karena ia pernah mendengarkan sebuah nasehat yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfat bagi yang lainnya”. Harta yang disedekahkan tak akan pernah hilang begitu saja. Harta bisa dicari kembali karena rezeki tidak akan pernah tertukar. Itulah nasehat yang selalu dipegang dirinya.

            Operasi mulai dilakukan, si Pak Tua tersebut dibawa ke ruangan yang bercahaya putih, para dokter memakai jubah khasnya yang berwarna hijau, sarung tangan putih menyelimuti tangan mereka, suara gunting dan pisau bedah yang saling bergesekan, darah merah yang mengalir di atas tangan para asisten dokter. Hasilnya, operasi berjalan dengan baik, Pak Tua itu pun selamat. Samar sujud syukur setelah mendengar hal itu, yang hanya bisa menunggu di luar ruangan operasi. Pihak rumah sakit segera memberitahu keluarga asli dari Pak Tua tersebut dan akan segera datang, sedangkan Samar pun tersenyum merasa lega dan bisa beranjak pulang ke apartemen mininya bersama temannya Aditya.

***

            Hari berganti hari, siang yang selalu bergantian dengan malam menyinari bumi terutama kota London, tidak ada yang berubah dari kota tersebut, tetap indah dilihat dan dirasakan, awan putih yang bergerak lambat diiringi dengan angin sepoi-sepoi. Samar yang sedang duduk di taman dengan temannya Aditya terlihat sangat dekat dalam persahabatan. Seorang pria menghampiri mereka berdua.

            “Apakah anda bernama Samar?” Tanya pria tersebut.

            “Iya, benar,” Jawab Samar.

            “Kami mengundang anda untuk makan siang di rumah tuan kami, apakah anda bersedia?”

            “Ada acara apa ya, Pak?”

            “Nanti akan dijelaskan tuan kami di sana,”

            “Baik saya ikut,” Jawab Samar menyetujui undangan pria tersebut.

            Tibanya di rumah megah, di sanalah sudah terhidang makanan siang. Terlihat kejauhan seorang Pak Tua dan seorang gadis yang sedang menunggu Samar dan temannya. Siapa yang menyangka bahwa Pak Tua tersebut adalah seseorang yang Samar selamatkan dan seorang gadis tersebut ialah Tania, seoarang putri satu-satunya yang dimiliki Pak Tua tersebut.

            Makan siang berjalan dengan baik, sikap ramah saling berbalasan antara Samar dengan pihak keluarga Tania. Pak Tua menjelaskan suatu hal yang mana seorang pemuda yang tak terselamatkan tersebut adalah calon suami dari Tania. Kedua belah pihak keluarga mereka memutuskan untuk membatalkan acara pernikahan tersebut. Samar terdiam dan Pak Tua tersebut langsung menyampaikan niat tujuan mengundang Samar untuk makan siang,  yaitu ia ingin menjodohkan putrinya Tania dengan Samar.

            “Di dunia ini ada hubungan yang kita buat dan ada juga hubungan yang dibuat Allah Swt., yakinlah bahwa hubungan ini adalah takdir yang Allah buat untuk kalian berdua,” Nasehat Ayah Tania dengan senyum yang lepas.

Senyum mulai tampak dari kedua pasangan tersebut dan akhirnya  mereka berdua menikah dan bahagia,  memiliki  anak yang soleh dan solehah. Dan tak ada hari tanpa ada tawa dan senyuman bahagia di kehidupan keluarga mereka.

Itulah kehidupan yang tak pernah kita tahu alur jalannya, kita lupa bahwa alur hidup bukan kita yang buat tetapi Allah SWT yang telah menentukan alur yang terbaik manusia. Tentang hidup, jadilah orang yang bermanfaat, berikan yang terbaik yang engkau bisa lakukan, dan tentang cinta, ingatlah didunia ini ada hubungan yang kita buat dan ada juga hubungan yang dibuat Allah SWT, biarlah Allah yang membuat alurnya, kita hanya menjalaninya, manusia hanya bisa merencanakan akan tetapi ada Allah SWT yang akan menentukan segalanya.

 

Komentar

  1. “Tentang hidup, jadilah orang yang bermanfaat, berikan yang terbaik yang engkau bisa lakukan, dan tentang cinta, ingatlah didunia ini ada hubungan yang kita buat dan ada juga hubungan yang dibuat Allah SWT, biarlah Allah yang membuat alurnya, kita hanya menjalaninya, manusia hanya bisa merencanakan akan tetapi ada Allah SWT yang akan menentukan segalanya.“
    .
    .
    Kreen de, sangat menginspirasi, suka sama paragraf terakhir, lanjutkan 👍🏻

    BalasHapus

Posting Komentar